Istilah Bakar dalam Tradisi Bertani Melayu Sambas

Di balik hasil panen yang dinikmati petani, sesungguhnya tersimpan banyak kisah yang jarang tersingkap. Ada perjuangan, keringat, kelelahan, bahkan mungkin saat-saat ketika mereka nyaris menyerah. Namun bagi petani desa, semua itu merupakan bagian yang lumrah dari kehidupan. Waktu mengajarkan mereka untuk terbiasa menghadapi berbagai keadaan. Sedikit demi sedikit, pengalaman tersebut membentuk karakter dan kepribadian yang kemudian tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Pada awal menekuni pekerjaan bertani, ada niat yang harus ditanamkan terlebih dahulu. Ada harapan dan cita-cita yang menjadi modal awal untuk membangun etos kerja. Bertani bukan sekadar soal mengolah tanah, melainkan juga tentang melanjutkan kehidupan, menjaga keberlangsungan keluarga, serta membuka jalan agar berbagai impian dapat diraih.

Dalam praktiknya, salah satu tahap awal yang dilakukan petani adalah membuka lahan. Bagi masyarakat petani Melayu Sambas, proses ini dilakukan melalui berbagai cara, di antaranya membabat semak dan menebangi pepohonan, kemudian membersihkannya dengan pembakaran.

Dalam leksikon Melayu Sambas, kegiatan membabat lahan dikenal dengan istilah merimbak. Merimbak adalah proses menebangi seluruh vegetasi yang tumbuh di suatu lahan, mulai dari pohon besar hingga semak dan tumbuhan kecil lainnya.

Kegiatan merimbak umumnya dilakukan tanpa sistem tebang pilih. Tujuannya adalah menjadikan lahan lebih terbuka sehingga tidak lagi alik dan kalap . Alik merujuk pada lahan yang dipenuhi rerumputan, sedangkan kalap adalah lahan yang banyak ditumbuhi pohon sehingga menghalangi tanaman memperoleh sinar matahari secara optimal. Akibatnya, tanaman cenderung tumbuh meninggi dan kurus karena kekurangan cahaya, atau dalam istilah biologi dikenal sebagai etiolasi.

Setelah proses merimbak selesai, pohon, ranting, dan sisa vegetasi yang telah tumbang biasanya dibiarkan selama beberapa minggu hingga mengering. Tujuannya agar lebih mudah dibakar saat proses pembersihan lahan dilakukan.

Menariknya, masyarakat petani Melayu Sambas memiliki beragam istilah yang berkaitan dengan aktivitas membakar. Kata bakar hanyalah istilah umum. Dalam praktiknya, terdapat sejumlah leksikon lokal yang hingga kini masih dituturkan oleh masyarakat

Pertama, cucol atau nyucol . Nyucol adalah kegiatan menyalakan api pertama, kemudian membuat induk api dari rumput kering atau bahan lain yang mudah terbakar. Induk api ini digunakan seperti obor untuk menjangkau berbagai sudut lahan sehingga proses pembakaran dapat berlangsung lebih cepat.

Kedua, pumpun atau mumpun . Istilah ini merujuk pada pembakaran yang lebih terarah dibandingkan nyucol . Biasanya digunakan untuk membakar tumpukan gulma, rumput kering, atau jerami sisa panen yang telah dikumpulkan dalam jumlah tertentu.

Ketiga, tugong . Tugong memiliki kemiripan dengan pumpun , tetapi ukurannya jauh lebih besar. Dalam praktiknya, kayu-kayu kering dan berbagai sisa vegetasi dikumpulkan menjadi satu tumpukan besar sebelum dibakar. Api yang dihasilkan biasanya bertahan lebih lama dan menimbulkan kepulan asap yang tinggi.

Keempat, puar atau muar . Istilah ini merujuk pada kegiatan membakar sesuatu yang berada di tempat tinggi. Caranya dengan menggunakan obor yang disambungkan pada tongkat panjang atau galah. Puar umumnya dilakukan untuk membakar sarang tawon, lebah, atau serangga lain yang menempel di dahan pohon.

Kelima, uru atau nguru . Berbeda dengan istilah sebelumnya, pembakaran dalam uru tidak bertujuan menghabiskan sesuatu. Uru dilakukan untuk meluruskan benda tertentu, misalnya batang bambu yang akan dijadikan galah. Bambu dipanaskan dengan api kecil pada bagian yang bengkok hingga menjadi lentur dan mudah diluruskan. Kadang-kadang, sesuatu yang ingin diluruskan memang harus terlebih dahulu dipanaskan.

Pada akhirnya, beragam istilah bakar dalam tradisi bertani Melayu Sambas tidak hanya memperlihatkan kekayaan bahasa lokal, tetapi juga menyimpan pengetahuan dan pengalaman hidup masyarakatnya. Dari sana kita belajar bahwa menjadi petani selalu dibersamai proses yang panjang. Tidak ada panen tanpa penanaman, tidak ada hasil tanpa ikhtiar. Yang senantiasa melekat pada diri petani bukan hanya kegigihan bekerja, melainkan juga ketekunan, kesabaran, sikap pantang menyerah, dan kerendahan hati dalam menjalani hidup.

Penulis : Juharis, Petani Millenial Kecamatan Jawai

 

Posting Komentar

0 Komentar