Pojokkatanews.com - Petani kelapa sawit swadaya di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, mulai merasakan dampak serius akibat anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan harga yang cukup tajam dinilai semakin menekan kondisi ekonomi petani di tengah tingginya biaya perawatan kebun.
Salah seorang petani sawit mandiri, Rodi, mengungkapkan harga TBS yang sebelumnya berada pada kisaran Rp3.000 hingga Rp3.350 per kilogram kini turun drastis hingga menyentuh Rp2.500 per kilogram. Bahkan, untuk beberapa kategori buah tertentu, harga pembelian disebut hanya berkisar Rp1.000 per kilogram.
“Anjloknya harga TBS ke kisaran Rp1.000 hingga Rp2.500 per kilogram sangat kami keluhkan, terutama bagi kami petani swadaya,” ujar Rodi, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan keresahan di kalangan petani karena hasil panen yang diperoleh tidak lagi sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk menjaga produktivitas kebun.
Ia menjelaskan, penurunan harga mulai dirasakan sejak 21 Mei 2026 dan terus berlanjut hingga akhir bulan. Situasi tersebut diduga berkaitan dengan gejolak kebijakan ekspor sawit yang memengaruhi mekanisme pasar di tingkat daerah.
“Sejak 21 Mei harga TBS di tingkat pengepul terus mengalami penurunan. Kondisi ini dipicu gejolak kebijakan ekspor yang menimbulkan ketidakpastian di pasar,” katanya.
Rodi menilai, dampak kebijakan tersebut tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri, tetapi juga langsung menyentuh petani di lapangan. Menurutnya, sejumlah pabrik kelapa sawit melakukan penyesuaian harga dan membatasi penerimaan buah dari petani swadaya selama masa transisi kebijakan berlangsung.
“Sejumlah pabrik melakukan penyesuaian harga bahkan membatasi pembelian TBS dari petani swadaya. Akibatnya posisi petani semakin sulit,” ungkapnya.
Di sisi lain, biaya produksi dan perawatan kebun justru terus meningkat. Untuk menjaga kualitas tanaman, petani harus mengeluarkan biaya pemupukan, pembersihan lahan, hingga pemeliharaan rutin yang nilainya tidak sedikit.
“Kondisi harga sawit saat ini sangat memukul petani swadaya karena biaya produksi dan perawatan kebun terus mengalami kenaikan,” tambahnya.
Menurut Rodi, biaya pemupukan dan pemeliharaan dapat mencapai sekitar 20 persen dari total biaya produksi atau sekitar 40 hingga 60 persen dari biaya perawatan rutin kebun. Dengan harga jual yang terus menurun, keuntungan petani semakin menipis bahkan berpotensi merugi.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga TBS di tingkat petani. Kebijakan yang berpihak kepada petani dinilai penting agar keberlangsungan usaha perkebunan rakyat tetap terjaga.
“Bagaimana kami bisa hidup kalau petani swadaya terus ditekan dengan harga yang rendah. Kami berharap pemerintah segera hadir dan mencari solusi agar harga sawit kembali stabil,” pungkasnya. (Run)

0 Komentar