Dinas kelautan dan Perikanan Sambas Dorong Produksi Garam Lokal untuk Penuhi Kebutuhan Industri Ubur-Ubur

PojokKataNews.Com - Kebutuhan garam di Desa Temajok, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, terus meningkat seiring berkembangnya industri pengolahan ubur-ubur yang menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat pesisir.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sambas, Uray Hendi, mengatakan bahwa wilayah perairan Temajok memiliki potensi besar untuk produksi garam karena tingkat salinitas air laut yang sangat tinggi.

"Sebagai laporan, pernah dilakukan pengukuran oleh tim Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), khususnya dari Direktorat Jasa Kelautan. Hasilnya menunjukkan kadar salinitas air laut di Temajok mencapai sekitar 5 B.E., yang artinya sangat tinggi dibandingkan beberapa daerah sentra garam seperti Cirebon maupun Madura," ujar Uray Hendi.

Menurutnya, kondisi geografis Temajok tidak memungkinkan pengembangan tambak garam seperti yang dilakukan di Madura atau Cirebon. Karena itu, pemerintah bersama KKP mengembangkan metode produksi garam menggunakan sistem tunnel.

"Hasil komunikasi kami dengan tim KKP menunjukkan bahwa sistem tunnel merupakan metode yang paling sesuai untuk Temajok. Teknologi ini memungkinkan produksi garam tetap berjalan meskipun cuaca kurang mendukung," jelasnya.

Uray Hendi menuturkan, kebutuhan garam untuk industri pengolahan ubur-ubur di Temajok mencapai ratusan ton setiap musim panen.

"Pada saat musim ubur-ubur, kebutuhan garam bukan lagi satu atau dua kilogram, melainkan ratusan ton. Bahkan kebutuhan tersebut bisa menghabiskan stok garam yang ada di Kabupaten Sambas," katanya.

Ia menjelaskan, satu kilang pengolahan ubur-ubur dapat menghabiskan puluhan hingga ratusan ton garam dalam satu musim produksi.

"Satu kilang minimal membutuhkan sekitar 40 ton garam. Karena itu, keberadaan produksi garam lokal sangat penting untuk mendukung industri ubur-ubur masyarakat," ujarnya.

Saat ini, pengembangan garam sistem tunnel telah dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat, termasuk kelompok di Sebubus dan kelompok yang dikelola secara mandiri oleh Haji Wahidin.

"Kelompok di Sebubus mendapat bantuan 20 unit tunnel dari KKP, sedangkan Pak Wahidin secara mandiri berhasil mengembangkan hingga 14 unit tunnel. Ini menunjukkan masyarakat mulai mampu mereplikasi teknologi yang diberikan pemerintah," kata Uray Hendi.

Ia menambahkan, sistem tunnel memiliki keunggulan karena proses penguapan air laut berlangsung lebih optimal dan tidak terlalu bergantung pada kondisi cuaca.

"Kalau produksi optimal, satu meja garam bisa menghasilkan sekitar satu hingga dua ton garam. Keunggulan sistem tunnel adalah panennya tidak terlalu terpengaruh hujan karena proses evaporasi berlangsung di dalam tunnel," jelasnya.

Saat ini terdapat sekitar 34 unit tunnel yang beroperasi di Temajok dan Sebubus dengan empat meja garam yang aktif berproduksi.

"Kalau satu meja garam menghasilkan sekitar dua ton, maka dengan empat meja garam kita bisa memproduksi sekitar delapan ton garam per bulan. Ini menjadi potensi yang sangat baik untuk terus dikembangkan," pungkasnya (Man)

Posting Komentar

0 Komentar