Minyak Goreng dan Gula Mahal, Distribusi Jadi Sorotan di Sambas

Pojokkatanews.com - Harga sejumlah kebutuhan pokok di Kabupaten Sambas, khususnya gula pasir dan minyak goreng, masih bertahan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Kondisi ini dipicu oleh keterbatasan pasokan yang hingga kini masih bergantung pada pengiriman dari luar daerah.

Di tingkat pedagang, ketersediaan barang juga belum sepenuhnya stabil. Mayoritas toko masih mengandalkan suplai dari Kota Pontianak, sehingga fluktuasi harga sulit dihindari. Sejumlah komoditas seperti minyak goreng kemasan, beras premium, dan gula pasir menjadi yang paling terdampak.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Kumindag) Sambas, Hermanto, mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 18 distributor yang menyuplai kebutuhan pokok masyarakat, sebagian besar berada di wilayah Pemangkat dan sekitarnya.

Namun, ia menjelaskan bahwa operasional para distributor tersebut sangat bergantung pada pasokan dari perusahaan besar di tingkat provinsi. Saat ini, distribusi dari pusat disebut tengah mengalami kendala.

“Untuk minyak goreng, kita sangat tergantung dari supplier Pontianak. Distributor di Sambas ini juga bergantung pada perusahaan besar di tingkat provinsi. Informasi yang kami terima, bukan karena produksi berkurang, tetapi pasokan untuk mengisi supplier di Pontianak juga sedang terbatas,” jelasnya, Senin (20/04/2026).

Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah daerah melalui dinas terkait berencana melakukan survei pasar serta pengawasan langsung guna memastikan ketersediaan barang dan menjaga stabilitas harga. Selain itu, komunikasi dengan para distributor terus diintensifkan agar distribusi dapat kembali lancar.

Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, terdapat kabar positif dari sektor lain. Harga telur ayam dan ayam ras dilaporkan mengalami penurunan signifikan pasca-Lebaran, seiring menurunnya permintaan masyarakat sehingga harga kembali ke level normal.

Pemerintah Kabupaten Sambas juga memastikan pasokan tambahan untuk gula dan minyak goreng segera masuk guna mengisi kekosongan pasar. Di sisi lain, upaya jangka panjang mulai ditempuh dengan menjalin komunikasi bersama pelaku usaha lokal yang memproduksi minyak goreng.

Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah sekaligus menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok bagi masyarakat. (Run)


Posting Komentar

0 Komentar