Pojokkatanews.com - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melalui
Ketua Umum HMI Cabang Sambas, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa mandeknya
pembangunan proyek waterfront di Kabupaten Sambas tidak lagi bisa dipandang
sebagai persoalan lokal semata. Proyek strategis yang berada di kawasan
perbatasan langsung Indonesia–Malaysia itu dinilai telah menyentuh isu yang
lebih luas, yakni kredibilitas dan wibawa Indonesia di mata regional bahkan
internasional.
Menurut Farhan, keterlambatan pembangunan waterfront Sambas
yang telah berlangsung cukup lama berpotensi menimbulkan persepsi negatif
terhadap keseriusan negara dalam membangun kawasan perbatasan. Padahal, wilayah
perbatasan memiliki posisi strategis sebagai gerbang terdepan yang
merepresentasikan wajah Indonesia di hadapan negara tetangga.
“Waterfront Sambas berada pada simpul geopolitik, ekonomi,
dan mobilitas lintas negara. Ketika proyek ini terbengkalai, yang dipertanyakan
bukan hanya kinerja pemerintah daerah, tetapi wibawa negara secara
keseluruhan,” tegas Farhan, Senin (12/01/2026).
Ia mengingatkan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat
sebelumnya telah menyampaikan komitmen untuk melanjutkan pembangunan waterfront
Sambas dengan target penyelesaian pada tahun 2027. Namun, memasuki awal tahun
2026, minimnya informasi dan transparansi mengenai progres pembangunan justru
memperlebar jarak antara janji dan realisasi di lapangan.
Farhan menilai, ketidakjelasan tersebut berisiko menurunkan
kepercayaan publik, sekaligus memperkuat kesan lemahnya tata kelola proyek
strategis di kawasan perbatasan. Padahal, di banyak negara, kawasan waterfront
di wilayah perbatasan difungsikan sebagai etalase nasional, ikon pariwisata,
simpul investasi, serta simbol keberhasilan penataan ruang publik modern.
“Di banyak kawasan ASEAN, riverfront atau waterfront
menjadi wajah negara. Ketika di Sambas proyek ini berlarut-larut, pesan yang
terbaca ke luar negeri sederhana namun berbahaya: Indonesia lamban
menyelesaikan komitmennya,” ujar Farhan.
HMI Sambas menilai kondisi ini berisiko melemahkan posisi
Indonesia dalam persaingan kawasan, khususnya dalam pengembangan pariwisata
lintas batas, peningkatan arus investasi regional, serta penguatan diplomasi
budaya berbasis sungai yang menjadi karakteristik wilayah Kalimantan Barat.
“Ini bukan lagi sekadar soal beton, taman, atau lanskap.
Ini soal kepercayaan. Kepercayaan investor, wisatawan, dan kepercayaan negara
lain terhadap komitmen pembangunan Indonesia di wilayah perbatasan,” katanya.
Oleh karena itu, HMI mendesak pemerintah pusat, pemerintah
provinsi, dan pemerintah daerah untuk menjadikan pembangunan waterfront Sambas
sebagai prioritas strategis nasional. Farhan menekankan pentingnya penyusunan
peta jalan yang jelas, tenggat waktu yang terukur, serta mekanisme pelaporan
progres pembangunan yang terbuka dan dapat diakses publik.
Selain itu, HMI juga mengajak masyarakat sipil, akademisi,
serta insan pers untuk bersama-sama mengawal dan mengangkat isu ini ke forum
yang lebih luas. Menurutnya, diskursus pembangunan perbatasan dan infrastruktur
berkelanjutan perlu terus digelorakan agar tidak berhenti pada retorika semata.
“Di wilayah perbatasan, setiap kelambanan adalah pesan ke
dunia. HMI tidak ingin mendengar pengulangan janji, tetapi menuntut pembuktian
nyata,” pungkas Farhan. (Run)
.jpg)
0 Komentar