Membangun Kesejahteraan Umat Lewat Sinergi Pendidikan Dan Ekonomi Islam Di Kabupaten Sambas

Kabupaten Sambas memiliki dua modal besar yang sering berjalan sendiri-sendiri: kuatnya tradisi pendidikan agama Islam dan besarnya potensi ekonomi masyarakat pesisir dan perbatasan. Surau ramai tiap Magrib. Pasar dan kebun sawit juga ramai tiap subuh. Pertanyaannya: bagaimana jika dua kekuatan ini disatukan?

Selama ini pendidikan agama Islam fokus mencetak santri yang hafal Al-Quran. Sementara ekonomi umat jalan sendiri lewat pedagang, petani, dan TKI. Akibatnya kita punya banyak lulusan mengaji, tapi masih banyak yang terlilit riba dan rentenir. Kita punya banyak UMKM, tapi sedikit yang berbasis prinsip syariah. Padahal dalam Islam, pendidikan dan ekonomi tidak bisa dipisahkan. Rasulullah adalah guru sekaligus pedagang. Pesantren dulu juga pusat ilmu sekaligus pusat produksi. Inilah yang kita sebut "sinergi Pendidikan dan Ekonomi Islam".

Di Sambas ada lebih dari 400 TPA, 150 Majelis Taklim, dan puluhan pesantren. Ini aset luar biasa. Peran pendidikan Islam hari ini harus diperluas. Selain akhlak dan ibadah, wajib ditambah 3 materi: 

1.  Literasi Ekonomi Syariah: Mengenalkan bahaya riba, pentingnya zakat, infaq, sedekah, dan wakaf produktif

2.  Kewirausahaan Halal: Dari cara berdagang jujur, pencatatan keuangan, sampai branding produk halal

3.  Manajemen Keluarga: Agar ibu-ibu majelis taklim bisa mengelola keuangan rumah tangga dan UMKM. 

Bayangkan jika setiap lulusan TPA tidak hanya bisa mengaji, tapi juga paham cara membuka usaha kecil tanpa utang bank konvensional.

Kabupaten Sambas punya potensi besar: pertanian, perikanan, perdagangan perbatasan, dan kuliner halal. Tapi 70% UMKM kita masih jalan sendiri, tanpa jaringan, tanpa sertifikasi halal, dan masih minjam ke rentenir.

Di sinilah ekonomi Islam masuk. Lewat koperasi syariah, BMT, zakat produktif, dan wakaf, kita bisa: 

1.  Memodali UMKM tanpa riba

2.  Menjamin pasar lewat label halal dan jejaring pesantren

3.  Mengentaskan kemiskinan lewat zakat yang tidak hanya dibagi, tapi diputar jadi modal usaha

Hasilnya untuk biaya operasional pesantren dan beasiswa anak yatim.

Agar tidak berhenti di wacana, ini 3 model yang bisa langsung diterapkan:

Model 1: "Pesantrenpreneur"  

Pesantren dan TPA membuka unit usaha: toko, percetakan, kuliner. Santri dilibatkan sebagai tenaga kerja dan belajar manajemen. Laba dipakai untuk operasional lembaga.

Model 2: "Majelis Taklim Produktif"  

Majelis taklim ibu-ibu tidak hanya kajian. Dibentuk kelompok usaha bersama: kue, kerajinan, jahit. Permodalan dari dana ZIS Baznas Kabupaten Sambas. Pendampingan dari penyuluh ekonomi syariah Kemenag.

Model 3: "Desa Cinta Wakaf"  

Pemerintah desa menyisihkan tanah wakaf untuk kebun atau kolam. Hasilnya untuk honor guru ngaji dan beasiswa. Ini sudah jalan di beberapa desa di Jawa dan bisa kita tiru di Sambas.

 Tantangan dan Peran Pemerintah Daerah

Tantangan terbesar adalah mindset. Sebagian masyarakat masih menganggap "ngaji ya ngaji, dagang ya dagang". Padahal keduanya ibadah jika niatnya benar. Pemerintah Kabupaten Sambas perlu hadir. Lewat Dinas Pendidikan, Kemenag, Dinkop UKM, dan Baznas. Bentuknya: pelatihan gratis, sertifikasi halal, akses permodalan syariah, dan memasukkan materi ekonomi syariah ke kurikulum madrasah.

Membangun Sambas tidak cukup dengan jalan dan jembatan. Harus juga membangun manusia dan ekonominya. Ketika anak-anak kita cerdas agamanya dan mandiri ekonominya, maka kemiskinan, NAPZA, dan pengangguran bisa kita tekan. Sudah saatnya kita bergerak, karena kesejahteraan umat yang hakiki adalah ketika perut kenyang, iman kuat, dan hidup berkah.

Penulis : Syamsiar, S. Pd, Kepala SMPN 4 Paloh dan Mahasiswa Megister Ekonomi Syariah UNISSAS


Posting Komentar

0 Komentar