Pojokkatanews.com - Kapolres Sambas AKBP Sanny Handityo, S.I.K., M.H. meminta masyarakat menghentikan aktivitas pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar selama kondisi cuaca panas dan kekeringan masih melanda Kabupaten Sambas.
Menurut Sanny, kondisi saat ini sangat berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selain api lebih mudah menyebar, sumber air di sejumlah lokasi juga mulai mengalami penyusutan sehingga menyulitkan proses pemadaman.
Hal tersebut disampaikan Sanny saat mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Karhutla Kabupaten Sambas, Senin (24/8/2026).
“Kemarin kami melihat sendiri sumber air tinggal sedikit. Di Teluk Keramat memang ada embung, tetapi ketika digunakan untuk pemadaman hanya bertahan sekitar setengah jam dan airnya habis,” ujar Sanny.
Ia menjelaskan, petugas bahkan harus melakukan estafet air dari sungai menuju sejumlah embung menggunakan mesin pompa agar kebutuhan air untuk pemadaman tetap terpenuhi.
Kondisi tersebut, kata Sanny, harus menjadi perhatian serius. Sebab, kebakaran yang terjadi di wilayah luas dan jauh dari sumber air akan membutuhkan waktu serta tenaga lebih besar untuk dikendalikan.
“Bagaimana kalau tidak ada sumber air, sementara wilayah yang terbakar cukup luas. Ini yang harus benar-benar kita sosialisasikan kepada masyarakat,” tegasnya.
Sanny meminta camat, kepala desa dan seluruh unsur terkait memperkuat sosialisasi pencegahan karhutla. Masyarakat diminta tidak membuka lahan, membersihkan pekarangan maupun melakukan aktivitas lain yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
“Jangan ada lagi yang membuka lahan dengan cara membakar. Jangan membersihkan pekarangan atau lahan dengan api. Dengan kondisi panas seperti sekarang, api sangat mudah meluas dan ketika sudah terbakar akan sulit dipadamkan karena sumber air sangat sedikit,” katanya.
Ia menegaskan, aturan mengenai pembukaan lahan tetap berlaku. Namun, kondisi cuaca yang panas dan kering saat ini membuat aktivitas pembakaran dinilai sangat berisiko.
“Bukan berarti aturan yang ada dibatalkan, tetapi situasi saat ini tidak memungkinkan. Selama situasi panas, kering dan masih terjadi asap, kami minta jangan ada pembakaran lahan dengan cara apa pun,” tegasnya.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, Polres Sambas juga mendapat tambahan 30 personel Brimob dari Mabes Polri. Personel tersebut akan ditempatkan secara zonasi di sejumlah wilayah yang dinilai rawan karhutla, yakni Polres Sambas, Selakau, Teluk Keramat, Jawai dan Paloh.
“Kami mendapat bantuan 30 personel Brimob. Sistemnya zonasi. Apabila terjadi kebakaran di wilayah lain yang membutuhkan bantuan, personel juga dapat digerakkan melalui koordinasi dengan Kapolsek,” jelas Sanny.
Kapolres juga menekankan pentingnya koordinasi antara TNI, Polri, BPBD dan seluruh unsur terkait melalui posko penanganan karhutla. Menurutnya, strategi pemadaman harus dirancang bersama agar personel dan peralatan dapat dikerahkan secara efektif.
“Kita punya personel dan peralatan, tetapi teknis di lapangan harus terkoordinasi. Jangan ada ego sektoral. Sebelum turun ke lapangan, kita duduk bersama di posko untuk menentukan pergerakan dan strategi agar api tidak meluas,” ujarnya.
Di sisi lain, kepolisian memastikan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan tetap berjalan. Hingga kini, Polres Sambas telah menerima dua laporan polisi terkait pembukaan lahan dengan cara membakar dan terdapat dua orang yang berpotensi diproses secara hukum.
“Ada dari Sajingan Besar dan Sejangkung. Kami tidak ingin menyakiti masyarakat, tetapi untuk memberikan efek jera, penegakan hukum tetap harus dilakukan,” ungkapnya.
Sanny menjelaskan, pembukaan lahan dengan luasan tertentu memiliki ketentuan dan persyaratan yang harus dipenuhi, termasuk koordinasi dengan pemerintah setempat, membuat sekat bakar, memberitahukan lingkungan sekitar serta menyiapkan peralatan pemadaman.
Namun, dalam kondisi panas dan kekeringan seperti saat ini, ia kembali meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran.
Kapolres Sambas juga mendukung ajakan Bupati Sambas agar sosialisasi bahaya karhutla disampaikan melalui kegiatan keagamaan di rumah-rumah ibadah.
Ia berharap masyarakat tidak hanya meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga bersama-sama berdoa agar kekeringan segera berakhir dan hujan kembali turun.
“Semoga Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Sambas, segera terbebas dari bencana asap,” pungkasnya.(Man)
.jpeg)
0 Komentar