210 Personel dari Banyuwangi Siap Bantu, Dandim Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla Sambas

Pojokkatanews.com - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sambas membutuhkan kesiapan personel, peralatan yang sesuai medan, serta dukungan logistik yang memadai.

Hal tersebut disampaikan Dandim 1208/Sambas Letkol Inf Dwiyanto Kusumo dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Karhutla Kabupaten Sambas, Senin (24/8/2026).

Dwiyanto mengatakan, pengalaman turun langsung menangani kebakaran di Kecamatan Paloh dan Teluk Keramat menunjukkan bahwa kondisi medan menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemadaman.

Menurutnya, api kerap masuk ke dalam area semak maupun lahan sehingga kendaraan pemadam sulit menjangkau titik kebakaran.

“Secara teknis kami sudah dua kali turun, pertama di Paloh dan kedua di Teluk Keramat. Kebakaran ini sebenarnya sederhana, yang penting alat dan peralatannya sesuai,” ujarnya.

Ia menilai pompa jinjing dengan selang panjang menjadi salah satu peralatan yang paling efektif digunakan di lapangan karena mampu menjangkau titik api yang tidak dapat diakses kendaraan pemadam.

“Biasanya api masuk ke dalam, sehingga mobil pemadam sulit menjangkau lokasi. Yang paling efektif di lapangan adalah pompa jinjing dengan selang air yang panjang,” katanya.

Selain peralatan, keselamatan personel juga menjadi perhatian. Dwiyanto mengingatkan petugas agar menggunakan masker dan perlengkapan pelindung diri ketika berada di lokasi kebakaran.

Ia menceritakan pengalaman saat melakukan pengecekan titik api bersama Kapolres Sambas. Kondisi angin yang tiba-tiba berubah membuat petugas harus segera menjauh dari lokasi.

“Ketika kami turun ke lokasi yang masih ada apinya, angin kencang langsung menghajar ke muka. Kami langsung berlari. Karena itu, faktor keselamatan dan penggunaan perlengkapan safety harus benar-benar diperhatikan,” tegasnya.

Untuk memperkuat koordinasi, Kodim 1208/Sambas akan menyiapkan posko tingkat kabupaten dan berkolaborasi dengan BPBD dalam pengelolaan data serta penanganan karhutla.

Dwiyanto juga mendorong adanya posko atau tempat istirahat di wilayah rawan kebakaran. Dengan begitu, personel dapat ditempatkan lebih dekat dengan titik api dan bergerak lebih cepat ketika terjadi kebakaran.

“Jangan ada ego sektoral. Ketika ada titik kebakaran, semua harus bergerak bersama,” katanya.

Menurutnya, kebutuhan dasar personel di lapangan juga harus dipastikan tersedia. Selain BBM untuk pompa jinjing dan kendaraan operasional, konsumsi personel harus terjamin selama menjalankan tugas pemadaman.

“Yang paling inti adalah BBM untuk pompa jinjing, BBM untuk sepeda motor, kemudian kebutuhan makan personel. Sebelum api benar-benar padam, kalau perlu personel tidak boleh bergeser. Tugas kita adalah memastikan seluruh kebutuhan mereka tetap tersuplai,” jelasnya.

Kesiapsiagaan juga diperkuat dengan adanya dukungan tambahan 210 personel Batalyon TP dari Banyuwangi, Jawa Timur.

Dwiyanto mengatakan personel tersebut nantinya dapat ditempatkan sesuai kebutuhan, baik untuk standby maupun membantu langsung proses penanganan di lapangan.

“Kami mendapat dukungan 210 personel dari Batalyon TP Banyuwangi. Nantinya ada yang standby dan ada yang langsung ditempatkan sesuai kebutuhan,” ungkapnya.

Dandim menilai kondisi karhutla di Sambas sejauh ini masih relatif terkendali dibandingkan beberapa daerah lain di Kalimantan Barat. Namun, kondisi tersebut harus dipertahankan agar titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran besar.

“Hotspot di Sambas relatif tidak banyak dibandingkan beberapa kabupaten lain. Karena itu, kita harus mempertahankan kondisi ini. Targetnya jelas, jangan sampai ada hotspot yang berkembang menjadi kebakaran besar,” tegasnya.

Di sisi lain, Dwiyanto mendorong pemerintah daerah menggandeng perusahaan atau korporasi yang beroperasi di Sambas untuk ikut membantu penanganan karhutla, terutama dalam pemenuhan kebutuhan logistik personel.

“Mungkin Pak Bupati bisa menggandeng korporasi atau perusahaan setempat untuk ikut membantu, misalnya kebutuhan makan dan kebutuhan lainnya. Dengan begitu, penanganan tetap maksimal dan penggunaan anggaran daerah juga bisa lebih efisien,” ujarnya.

Selain ikhtiar teknis, Dwiyanto juga mengusulkan upaya spiritual menghadapi musim kemarau dan minimnya curah hujan. Ia mengajak umat Islam di Kabupaten Sambas melaksanakan Salat Istisqa sebagai bentuk doa agar hujan segera turun.

“Selain ikhtiar secara teknis dan bersama-sama menangani kebakaran, bagi kita yang beragama Islam mungkin bisa melaksanakan Salat Istisqa, memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan,” pungkasnya. (Man)

 

Posting Komentar

0 Komentar