Bau Tanah yang Kita Remehkan


Belakangan saya membaca sebuah unggahan yang menganggap petani identik dengan kotor, bau tanah, dan karena itu kalau bisa jangan dijadikan pasangan hidup. Katanya, lebih baik mencari suami yang bukan petani agar istri cukup diam dan santai di rumah.

Saya tidak sedang membahas siapa yang menulisnya. Sebab persoalannya jauh lebih besar daripada satu unggahan. Cara berpikir seperti itu sudah hidup sejak lama.

Anggapan bahwa petani adalah profesi yang rendah sejatinya bukan hal baru. Ia adalah warisan cara pandang kolonial yang menempatkan pekerjaan berjas lebih terhormat daripada pekerjaan yang berlumur tanah. Anehnya, setelah puluhan tahun merdeka, sebagian dari kita masih memelihara cara berpikir itu.

Yang lebih miris, stigma itu kadang lahir dari keluarga petani sendiri. Berapa banyak anak petani yang sejak kecil mendengar nasihat, "Belajarlah yang rajin supaya nanti tidak jadi petani." Kalimat itu terdengar biasa, padahal diam-diam sedang mengajarkan bahwa pekerjaan yang membesarkan keluarga mereka sendiri adalah pekerjaan yang harus dihindari.

Padahal, sebelum banyak orang membuka laptop, petani sudah membuka pintu kebun. Sebelum matahari benar-benar meninggi, mereka sudah berkeringat. Saat sebagian besar kota masih sibuk menyusun agenda, petani sedang memastikan dapur-dapur tetap memiliki bahan untuk dimasak.

Lucunya, kita sering meremehkan petani ketika perut kenyang. Tetapi begitu harga cabai naik, beras langka, atau sayur sulit didapat, nama petani mendadak menjadi penting. Rupanya, yang sering kita lupakan bukan peran petani, melainkan rasa syukur kita.

Saya ingin bertanya sederhana. Jika semua orang berlomba menghindari menjadi petani, siapa yang akan menanam padi? Siapa yang akan menanam cabai, bawang, jagung, atau sayuran? Kita boleh bercita-cita menjadi apa saja. Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa semua cita-cita itu tetap membutuhkan makanan.

Tidak ada profesi yang berdiri sendiri. Guru membutuhkan petani agar muridnya belajar dengan perut kenyang. Dokter membutuhkan petani agar pasien memperoleh gizi yang baik. Pegawai, pedagang, polisi, dosen, pengusaha, bahkan pembuat konten sekalipun, tetap makan dari hasil kerja tangan yang sama. Kita hidup dalam mata rantai yang saling menguatkan, bukan saling merendahkan.

Karena itu, menjadi lebih baik tidak pernah mensyaratkan kita merendahkan orang lain. Harga diri tidak bertambah hanya karena kita berhasil mengecilkan martabat sesama.

Ada yang berkata petani itu kotor dan bau tanah. Saya sepakat pada satu hal. Setelah bekerja, pakaian petani memang penuh lumpur. Tangannya kasar. Badannya berkeringat. Itu konsekuensi pekerjaan, bukan ukuran kemuliaan seseorang.

Justru saya khawatir ketika ada orang yang jijik pada bau tanah, tetapi lupa bahwa hampir seluruh isi dapurnya lahir dari tanah yang sama. Nasi, cabai, sayur, buah, kopi, semuanya tumbuh dari tanah yang ia remehkan. Mungkin yang bermasalah bukan bau tanahnya, melainkan cara pandangnya.

Sebagai seorang muslim, kita juga diajarkan bahwa kebersihan bukan sekadar perkara pakaian yang bersih. Kebersihan lahir dari iman yang mendorong seseorang menjaga diri, lisannya, dan akhlaknya. Petani yang pulang dari ladang tentu akan mandi, bersuci, dan membersihkan dirinya sebelum beribadah. Lumpur yang menempel di badan mudah dibersihkan dengan air. Namun lumpur kesombongan yang menempel di hati hanya dapat dibersihkan dengan ilmu dan ketakwaan.

Rasulullah ï·º bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka sebelum menilai rendah profesi orang lain, barangkali kita perlu bertanya, apakah kalimat yang kita ucapkan sudah lebih bersih daripada tangan yang sedang kita hina?

Media sosial memang memberi semua orang ruang untuk berpendapat. Sayangnya, tidak semua orang memberi kesempatan kepada pikirannya untuk bekerja sebelum jarinya bergerak. Mencari perhatian dengan merendahkan profesi orang lain mungkin mendatangkan banyak komentar. Namun tidak semua yang ramai layak dibanggakan.

Saya tidak mengatakan semua pendapat harus divalidasi. Justru ada pendapat yang perlu diluruskan agar tidak berubah menjadi stigma. Bereaksi terhadap nasihat yang keliru bukan berarti antikritik. Itu adalah cara menjaga martabat sebuah profesi yang selama ini terlalu sering dipandang sebelah mata.

Petani tidak meminta dimuliakan. Mereka hanya ingin dipandang sebagaimana mestinya. Sebab ketika tangan-tangan yang hari ini kita anggap bau tanah itu berhenti menanam, bukan hanya ladang yang kosong. Meja makan kita pun perlahan akan kehilangan isinya.

Penulis : Juharis Petani Millenial Kecamatan Jawai


Posting Komentar

0 Komentar