Sekolah Tinggi Tapi Bertani Mengapa hidup harus selalu linear?

Sejak kecil kita dibentuk untuk percaya bahwa hidup punya jalur tunggal: sekolah, kuliah, bekerja sesuai jurusan, lalu mengejar status sosial. Ketika seseorang keluar dari jalur itu, ia dianggap gagal, tersesat, atau menyia-nyiakan pendidikan.

Padahal manusia tidak hidup di dalam satu kotak. Ketertarikan manusia berubah. Cara pandang berubah. Apa yang kita baca, lihat, dan konsumsi setiap hari ikut membentuk arah hidup kita. Tidak semua orang yang kuliah pertanian harus menjadi pegawai dinas. Tidak semua lulusan sastra harus menjadi penulis. Dan tidak semua sarjana harus duduk di ruangan ber-AC agar dianggap berhasil.

Sayangnya, masyarakat kita masih memandang kehidupan secara terlalu linear. Ketika seorang sarjana memilih bertani, pertanyaan yang muncul sering kali bernada merendahkan:

“Untuk apa kuliah tinggi kalau akhirnya ke kebun juga?”

Pemahaman seperti ini riskan. Ia menempatkan pendidikan hanya sebagai alat mencari status pekerjaan, bukan alat memperluas cara berpikir.

Di titik inilah profesi petani sering diposisikan secara tidak adil. Petani identik dengan pendidikan rendah, hidup pas-pasan, dan dianggap pilihan terakhir bagi orang yang tidak punya kesempatan lain. Bahkan dalam banyak kasus, tidak ada anak yang benar-benar didorong bercita-cita menjadi petani. Ironisnya, kita makan dari hasil tangan mereka.

Ada semacam stigma sosial yang diwariskan diam-diam bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin jauh ia harus dari tanah dan lumpur. Akibatnya, profesi petani kehilangan gengsi, padahal sektor pertanian adalah salah satu fondasi utama kehidupan.

Data Badan Pusat Statistik beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa mayoritas petani Indonesia didominasi kelompok berusia tua, sementara minat generasi muda terhadap pertanian terus menurun. 

Di sisi lain, banyak lulusan muda justru menghadapi kenyataan bahwa ijazah tidak selalu menjamin pekerjaan yang layak. Fenomena ini membuat banyak anak muda mulai mempertanyakan ulang makna “kesuksesan” itu sendiri.


Saya termasuk petani yang dulu pernah mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Bagi sebagian orang mungkin itu kemunduran. Namun bagi saya, justru di situlah saya menemukan bentuk kehidupan yang lebih utuh. Saya tetap bisa menulis, membaca, berbagi pemikiran, dan menyampaikan hikmah lewat pengalaman hidup. Cangkul tidak membuat pikiran menjadi dangkal. Lumpur tidak otomatis merendahkan martabat seseorang.

Dan saya rasa, di situlah letak perbedaannya. Petani yang memiliki akses pendidikan tinggi sering kali membawa cara pandang yang berbeda terhadap pertanian. Ia tidak hanya melihat sawah sebagai tempat menanam, tetapi juga ruang gagasan, ruang inovasi, bahkan ruang perlawanan terhadap cara berpikir lama.

Ini bukanlah kejumawaan. Ini fakta sosial yang jarang dibicarakan. Pendidikan membentuk cara seseorang memandang hidup, termasuk saat ia memilih kembali ke tanah.

Ada beberapa alasan mengapa banyak sarjana hari ini justru menjauh dari “esensi” gelarnya. 

Pertama, gelar sarjana kini sering berhenti sebatas administratif. Jika dulu ijazah identik dengan status sosial dan mobilitas ekonomi, hari ini jumlah lulusan meningkat jauh lebih cepat dibanding ketersediaan pekerjaan yang layak.

Kedua, persoalan upah. Banyak pekerjaan formal menawarkan gaji yang tidak sebanding dengan tekanan hidup. Bukan karena lulusannya malas atau tidak kompeten, tetapi karena realitas ekonomi memang berubah.

Ketiga, soal jaringan sosial. Dalam praktiknya, akses sering kali lebih menentukan daripada kemampuan. Mereka yang memiliki koneksi kuat, keluarga mapan, atau lingkungan profesional tentu lebih mudah menjadikan ijazah sebagai kendaraan menuju sukses. Sementara sarjana dari keluarga biasa harus berjuang lebih panjang.

Keempat, negara belum sepenuhnya hadir menciptakan ruang kerja yang sehat dan merata. Lapangan kerja tumbuh tidak secepat jumlah lulusan pendidikan tinggi. Akibatnya, banyak anak muda mengalami kebingungan identitas setelah lulus kuliah.

Mungkin itu juga sebabnya banyak generasi muda hari ini lebih memilih pekerjaan fleksibel, freelance, atau membangun jalan hidup sendiri dibanding bekerja dalam sistem yang menekan mental mereka.


Dan di tengah semua itu, menjadi petani justru bisa menjadi pilihan yang sadar, bukan keterpaksaan. Jika kamu membaca tulisan ini dan belum menemukan pekerjaan yang tepat atau sudah bekerja tapi merasa alasan di atas masuk akal. Sepertinya kamu perlu balik ke kampung, pikul cangkulmu, bajak tanahmu, dan bertanilah. wkwkwk

Setidaknya jika seseorang yang sekolah tinggi tapi bertani, ia menjadi bagian kecil dari puing kehidupan yang membuat orang-orang serupa tidak merasa rendah hanya karena kembali ke tanah. Sebab bisa jadi, masa depan justru lahir dari orang-orang yang berani keluar dari jalur hidup yang dianggap normal oleh kebanyakan orang.


Penulis : Juharis, Petani Millenial Kecamantan Jawai


Posting Komentar

0 Komentar