Bahasa kadang menyimpan keunikan yang tidak
langsung bisa dipahami hanya lewat tulisan. Ada kata yang tampak sama, tetapi
ketika diucapkan melahirkan makna berbeda. Ada pula bunyi yang sedikit berubah,
namun mampu menggeser pengertian secara keseluruhan. Fenomena seperti ini
bukanlah hal baru. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan tutur
semacam itu, termasuk dalam masyarakat Melayu Sambas.
Para pengkaji bahasa sebenarnya sejak lama
telah menaruh perhatian terhadap gejala tersebut. Berbagai istilah dan
pengelompokan ilmiah pun lahir untuk menjelaskannya. Namun kali ini aku tidak
ingin membawa tulisan ini terlalu jauh ke ranah teori. Selain karena aku
sendiri belum terlalu mafhum memahaminya, tulisan ini juga ingin kubawa dengan
cara yang lebih santai dan reflektif. Biar mudah dibaca sambil ngopi.
Di tengah masyarakat Melayu Sambas, ada dua
kata yang menarik untuk dimaknai: "lampang" dan "lampong".
Sekilas tampak sederhana. Bedanya hanya satu huruf vokal. Namun dalam
pengucapan sehari-hari, keduanya memiliki nuansa makna yang unik.
Kata "lampang" misalnya, jika
diberi imbuhan be- menjadi "belampang". Dalam percakapan masyarakat,
kata ini sering dipakai untuk menggambarkan bunyi yang nyaring dan terasa
dekat. Sejenis suara yang kerasnya seperti menghantam telinga secara tiba-tiba.
Contohnya dalam ungkap, “care belampang
lalu bunyi lentar.”
Kalimat itu menggambarkan suara halilintar
yang sangat keras dan mengejutkan. Ada kesan bunyi yang membelah suasana,
membuat orang spontan menoleh atau bahkan terkejut.
Namun menariknya, ketika kata
"lampang" berdiri sendiri tanpa imbuhan, maknanya justru berbeda.
Secara sederhana, ia dapat dipahami sebagai aktivitas memotong sesuatu pada
permukaan yang lebar. Dalam pengucapan masyarakat tertentu, khususnya di
wilayah Kecamatan Jawai, penyebutannya terdengar seperti terpisah,
"la-mpang".
Perbedaan cara menyebut ini juga menjadi penanda bahwa bahasa daerah tidak pernah benar-benar tunggal. Dalam satu kabupaten saja, logat dan tekanan bunyi bisa berubah-ubah. Kadang dipengaruhi letak geografis, kadang pula akibat percampuran masyarakat tempatan dengan pendatang dari wilayah hulu maupun hilir.
Lalu ada lagi kata "lampong".
Dalam pemahaman masyarakat sehari-hari, "lampong" berarti ringan.
Sesuatu yang mudah diangkat atau tidak terasa berat. Kata ini sering dipakai
untuk menggambarkan benda yang enteng atau pekerjaan yang terasa mudah
dilakukan.
Tetapi keunikan bahasa Melayu Sambas
kembali terlihat ketika kata itu diberi imbuhan be- menjadi
"belampong". Maknanya justru berubah mendekati "belampang",
yakni menggambarkan suara yang nyaring atau keras.
Misalnya dalam ungkapan, “Belampong suare
marcu.” Artinya suara petasan yang nyaring dan kuat terdengar.
Di titik ini kita seperti diingatkan bahwa
bahasa tidak selalu bekerja dengan logika yang lurus. Kadang satu bunyi bisa
berjalan ke banyak arah. Kadang pula dua kata yang berbeda justru bertemu pada
makna yang sama ketika diberi imbuhan tertentu.
Barangkali inilah yang membuat bahasa
daerah terasa hidup. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga jejak
cara masyarakat memandang dunia. Dari bunyi halilintar, suara petasan, hingga
cara menyebut sesuatu yang ringan. Semuanya tersimpan dalam pilihan kata yang
diwariskan turun-temurun.
Dan mungkin, di situlah indahnya bahasa
Melayu Sambas. Ia tidak hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk dirasakan.
Penulis : Juharis

0 Komentar