Gelar Sarjana Bukan Garansi Masa Depan “Membaca Tantangan Anak Muda Kabupaten Sambas di Tengah Dunia Kerja yang Berubah”

 

Ada keyakinan yang masih kuat di tengah masyarakat : "kuliah, mendapatkan gelar sarjana, lalu memperoleh pekerjaan yang layak." Dulu, pola itu terasa cukup masuk akal. Namun hari ini, dunia kerja bergerak jauh lebih cepat daripada sekedar proses mendapatkan ijazah. Karena itu, kita perlu berani mengatakan : "gelar sarjana penting, tetapi bukan garansi masa depan."

Persoalan ini relevan dibicarakan di Kabupaten Sambas. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Sambas pada Agustus 2025 berada di angka 4,91 persen, sedikit di atas TPT Kalimantan Barat sebesar 4,82 persen. Sementara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Kabupaten Sambas mencapai 73,09 persen. Angka tersebut memang tidak secara otomatis menggambarkan kondisi seluruh lulusan perguruan tinggi. Namun, ia memberikan satu pesan penting: pasar kerja tetap menjadi tantangan yang harus dibaca serius, termasuk oleh generasi muda terdidik.

Di balik statistik itu ada realitas yang sering kita temui. Lulusan perguruan tinggi mencari pekerjaan dalam waktu lama. Sebagian bekerja tidak sesuai bidang pendidikan. Sebagian lainnya memilih pekerjaan yang tersedia karena kebutuhan hidup tidak bisa menunggu datangnya pekerjaan ideal.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi, “Apakah anak muda harus kuliah?”

Jawabannya tentu: pendidikan tetap penting.

Pertanyaan yang lebih relevan adalah: “Setelah lulus, apa yang benar-benar kita miliki selain selembar ijazah?”

Ijazah atau Kompetensi?

Dunia kerja membutuhkan lebih dari sekedar gelar. Kemampuan berkomunikasi, mengolah data, menggunakan teknologi, bekerja dalam tim, berpikir kritis, memecahkan masalah, beradaptasi, dan menghasilkan karya menjadi semakin penting.

Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mengejar nilai dan menunggu wisuda. Kampus harus menjadi tempat membangun kompetensi. Organisasi mahasiswa harus menjadi ruang belajar kepemimpinan. Magang harus menjadi pengalaman menghadapi dunia profesional. Penelitian harus mampu menjawab persoalan masyarakat. Sementara kegiatan pengabdian harus menjadi ruang untuk menguji pengetahuan dalam kehidupan nyata. Ijazah membuktikan bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan. Kompetensi membuktikan apa yang mampu ia kerjakan.

Di sinilah pendidikan tinggi perlu terus berbenah. Perguruan tinggi jangan hanya menghasilkan lulusan yang siap mencari pekerjaan, tetapi juga lulusan yang mampu membaca masalah, menciptakan peluang, dan menghasilkan solusi.

Kabupaten Sambas Membutuhkan Lebih dari Sekedar Sarjana.

Sambas memiliki banyak anak muda terdidik dan potensial. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dihubungkan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Kita membutuhkan sarjana yang tidak hanya mencari pekerjaan di pusat kota, tetapi juga mampu melihat potensi di desa. Kita membutuhkan generasi muda yang mampu mengembangkan pertanian, peternakan, ekonomi kreatif, teknologi, pendidikan, usaha mikro, hingga pelayanan publik.

Peningkatan kualitas manusia juga terlihat dari capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sambas pada Tahun 2025 mencapai 72,08, meningkat dari 71,20 pada 2024.

Namun peningkatan pendidikan dan kualitas manusia harus berujung pada sesuatu yang lebih konkret: produktivitas, kesempatan kerja, pendapatan, dan kesejahteraan. Sebab pendidikan yang tidak terhubung dengan kesempatan dan produktivitas akan meninggalkan jarak antara harapan dan kenyataan.

Jangan Sampai Bonus Demografi Menjadi Beban. 

Kita sering menyebut bonus demografi sebagai peluang besar. Tetapi bonus demografi tidak otomatis menjadi bonus pembangunan.

Ia menjadi kekuatan ketika anak muda memiliki pendidikan, keterampilan, kesehatan, pekerjaan, dan ruang untuk berpartisipasi. Sebaliknya, ketika jumlah penduduk usia produktif tidak diimbangi dengan kesempatan dan kompetensi yang memadai, bonus demografi dapat berubah menjadi persoalan sosial-ekonomi.

Karena itu, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat harus membangun ekosistem yang membuat anak muda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta nilai dan peluang. Namun tanggung jawab itu bukan hanya milik pemerintah.

Anak muda juga harus mengubah cara berpikir.

Jangan berhenti pada pertanyaan, “Di mana saya bisa bekerja?”

Mulailah bertanya, “Masalah apa yang bisa saya selesaikan?”

Jangan hanya bertanya, “Berapa gaji yang bisa saya dapatkan?”

Tetapi juga, “Nilai apa yang bisa saya ciptakan?”

Masa Depan Tidak Cukup Ditunggu

Gelar sarjana tetap penting. Tetapi gelar hanyalah pintu masuk. Setelah pintu terbuka, seseorang tetap harus memiliki kemampuan untuk berjalan, beradaptasi, dan membuktikan dirinya. Bagi anak muda di Kabupaten Sambas, masa depan tidak boleh hanya dipahami sebagai sesuatu yang harus ditunggu setelah mendapatkan pekerjaan. Masa depan harus dipersiapkan sejak bangku kuliah, melalui pengalaman, keterampilan, jejaring, keberanian mencoba, dan kemauan menciptakan sesuatu. Sambas tidak hanya membutuhkan generasi yang lulus kuliah.

Sambas membutuhkan generasi yang mampu berkarya, menciptakan peluang, menyelesaikan masalah, dan memberikan manfaat. Sebab pada akhirnya, yang menentukan masa depan bukan semata-mata seberapa tinggi gelar yang kita sandang, tetapi seberapa besar kemampuan kita mengubah pengetahuan menjadi karya dan karya menjadi manfaat.

"Gelar adalah awal. Kompetensi adalah modal. Karya adalah pembuktian."

Penulis : Adimas Nuur Syaifullah, S. Sos

Posting Komentar

0 Komentar