Pojokkatanews.com – Longsor terjadi di kawasan Gunung Senujuh, Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, pada Rabu, 30 September 2026. Longsoran material tanah dan bebatuan terjadi di Gunung Senujuh dan berpotensi berdampak pada aktivitas masyarakat setempat.
Menanggapi peristiwa tersebut, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kecamatan Sejangkung (HMKS), Muhammad Rasya Alfaed, menyampaikan keprihatinan sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa kejadian ini adalah peringatan dari alam.
"Longsor ini adalah kode dari alam kepada kita. Alam sedang memberi tanda bahwa ada keseimbangan yang terganggu, dan kita perlu mendengarkannya sebelum kejadian yang lebih besar terjadi," ujar Rasya, Rabu (30/9/2026).
Menurut HMKS, kawasan pegunungan berfungsi menahan tanah dan mengatur aliran air. Tutupan pohon yang berkurang membuat tanah kehilangan kekuatan pengikat, sehingga lereng lebih mudah bergerak, terutama saat curah hujan tinggi.
HMKS juga mengingatkan bahwa hutan di sekitar Gunung Senujuh merupakan kawasan Hutan Lindung. Hal itu ditetapkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Sambas Nomor 17 Tahun 2015 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sambas, tepatnya pada Pasal 22. Dengan status tersebut, fungsi utama kawasan ini adalah melindungi tanah, tata air, dan keseimbangan lingkungan, sehingga harus dijaga dari perusakan.
Karena itu, HMKS mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan penebangan pohon di kawasan Gunung Senujuh dan sekitarnya, karena selain akar pohon menjadi penahan alami lereng dari longsor, kawasan tersebut berstatus Hutan Lindung. Kemudian terus menjaga satwa yang hidup di sekitar Gunung Senujuh, karena satwa merupakan bagian dari ekosistem yang menjaga keseimbangan Kawasan lalu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras, bagi warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar kaki gunung dan lereng.
HMKS juga mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah desa, dan pemuda di Kecamatan Sejangkung untuk bersama-sama menjaga kelestarian Gunung Senujuh sebagai warisan alam dan sumber kehidupan bagi masyarakat setempat.
"Gunung ini bukan hanya milik kita hari ini, tetapi juga milik anak cucu kita. Kalau kita jaga, alam akan menjaga kita kembali," tutup Rasya. (Run).

0 Komentar