Pojokkatanews.com – Bagi petani jagung di Kabupaten Sambas persoalan pertanian tidak berhenti pada urusan menanam dan memanen. Dari tanah yang kering, keterbatasan air, waduk yang rusak, harga pupuk hingga serangan hama, berbagai persoalan harus dihadapi sejak membuka lahan hingga hasil panen keluar dari kebun.
Gambaran itu terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) lokus Gerbang Mas Perkasa bersama Gapoktan Cahaya Sebunga.
FGD tersebut diikuti pengurus Gapoktan dan 12 ketua kelompok tani. Dalam diskusi, petani memetakan persoalan yang mereka hadapi ke dalam empat tahapan, yakni pratanam, tanam, panen dan pascapanen.
Pada tahap pratanam, kondisi tanah menjadi salah satu tantangan. Petani menyebut karakter tanah di wilayah mereka cenderung kering dan tandus sehingga membutuhkan tenaga dan biaya lebih untuk pengolahan.
“Di sini pengolahan tanahnya setengah mati, tanahnya kering dan tandus, beda dengan tanah yang di Jawa,” kata Budianto.
Karena itu, petani berharap dukungan alat dan mesin pertanian, terutama hand tractor, yang dapat dikelola secara bersama melalui Gapoktan.
Namun, persoalan yang dianggap lebih mendasar adalah ketersediaan air. Selama ini, petani masih banyak bergantung pada hujan untuk memulai musim tanam.
Kondisi tersebut diperparah dengan rusaknya waduk yang sebelumnya menjadi sumber pengairan lahan pertanian.
“Dulu produksi jagung dan beras di sini cukup banyak, air ada bisa disalurkan dari waduk. Semenjak waduk jebol tidak bisa lagi mengairi lahan. Banyak yang survei, foto-foto waduk, tapi tidak ada tindak lanjut,” ujar Jongkok.
Memasuki masa tanam, persoalan biaya produksi kembali muncul. Harga pupuk yang tinggi membuat petani harus mengeluarkan modal lebih besar, sementara sebagian masih bergantung pada bantuan pemerintah.
“Memulai penanaman membutuhkan modal yang besar, pupuknya mahal. Jika tidak dipupuk, tidak mampu tumbuh, hasilnya jelek,” ujar Antonius.
Sejumlah petani sebenarnya telah mencoba memanfaatkan pupuk organik berbahan kotoran ternak. Namun, ketersediaannya belum mampu mencukupi kebutuhan lahan.
Ancaman lain datang dari serangan hama. Petani menemukan berbagai gejala pada tanaman, mulai dari daun menggulung, batang mengeluarkan serbuk putih, buah membusuk hingga serangan ulat hitam.
Keterbatasan pengetahuan mengenai jenis dan penanganan hama membuat pengendalian di tingkat petani belum maksimal.
Persoalan tidak berhenti ketika jagung memasuki masa panen. Lokasi kebun yang jauh dari akses jalan membuat petani harus mengangkut hasil secara manual.
Ketika hujan turun, jalan tanah menjadi becek dan proses pengangkutan semakin berat karena jagung ikut terkena air.
Di tahap pascapanen, keterbatasan mesin pemipil juga menjadi kendala. Proses pengeringan masih banyak mengandalkan panas matahari sehingga sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Dari rangkaian persoalan tersebut, TEP UI bersama Gapoktan Cahaya Sebunga mulai mendorong pengembangan jagung komposit sebagai salah satu alternatif untuk memperkuat kemandirian petani.
Jagung komposit dipilih karena sebagian hasil panennya dapat diseleksi dan digunakan kembali sebagai benih pada musim tanam berikutnya.
TEP UI akan menyediakan benih percontohan sekaligus mendampingi petani melalui konsep “Penabungan Bibit”. Sebagian hasil panen nantinya disimpan sebagai benih dan dikelola melalui Gapoktan untuk memenuhi kebutuhan anggota pada musim tanam berikutnya.
Setiap satu kilogram benih disebut berpotensi menghasilkan sekitar 250 hingga 300 kilogram jagung, tergantung kondisi budidaya di lapangan.
Skema tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap bantuan benih sekaligus mengembalikan fungsi Gapoktan sebagai wadah bersama dalam menyelesaikan persoalan pertanian.
TEP UI juga menggandeng Dinas Pertanian Kabupaten Sambas untuk memberikan pendampingan terkait budidaya jagung komposit, pengendalian hama serta pemilihan hasil panen yang layak dijadikan benih.
Meski demikian, petani masih menghadapi persoalan mendasar yang membutuhkan dukungan lintas pihak, terutama perbaikan waduk dan jaringan irigasi, akses jalan pertanian, ketersediaan pupuk serta alat dan mesin pertanian. (Run)

0 Komentar