Kabut Asap Makin Pekat, Warga Sambas Khawatirkan Kesehatan Anak dan Bayi

Pojokkatanews.com -  Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat mulai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat Kabupaten Sambas.

Dalam beberapa hari terakhir, warga merasakan kabut asap semakin tebal dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut juga membuat masyarakat semakin waspada terhadap dampaknya terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Orang tua yang memiliki bayi, balita dan anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling khawatir. Paparan asap dalam kondisi kualitas udara yang memburuk dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan pernapasan.

Rahma, warga Kecamatan Teluk Keramat, mengatakan kabut asap yang semakin pekat membuat dirinya khawatir, terutama terhadap kondisi anak-anak.

“Sekarang asap semakin tebal. Kami sebagai orang tua tentu sangat khawatir, terutama terhadap anak-anak dan bayi. Mereka lebih rentan kalau terlalu lama menghirup udara yang penuh asap,” ujar Rahma.

Menurutnya, kabut asap bukan hanya membuat jarak pandang terganggu, tetapi juga membuat aktivitas masyarakat menjadi tidak nyaman. Ia berharap penanganan Karhutla dapat dilakukan secara cepat dan serius agar asap tidak semakin meluas.

“Kalau bisa segera ditangani, jangan sampai asap terus menyebar dan anak-anak menjadi korban. Kami berharap masyarakat juga sadar bahwa dampaknya bukan hanya kepada diri sendiri, tetapi kepada banyak orang,” katanya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Wati, warga Kecamatan Sambas. Ia mengaku kondisi kabut asap membuat masyarakat harus lebih berhati-hati, khususnya ketika anak-anak harus beraktivitas di luar rumah.

“Kami sangat khawatir dengan anak-anak dan bayi. Kalau asap semakin tebal, mereka bisa sesak dan tidak nyaman bernapas. Sebagai orang tua tentu takut kalau sampai kesehatan mereka terganggu,” ungkap Wati.

Wati berharap pemerintah bersama aparat terkait terus meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan Karhutla. Menurutnya, upaya tersebut perlu dilakukan secara bersama-sama agar kebakaran tidak terus terjadi dan asap tidak semakin mengganggu masyarakat.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

“Kami berharap semua pihak saling menjaga. Jangan ada lagi yang sengaja membakar lahan karena asapnya dirasakan oleh masyarakat luas. Anak-anak kita yang akhirnya bisa terkena dampaknya,” tegasnya.

Selain penanganan di lapangan, warga juga berharap informasi mengenai perkembangan kualitas udara dan langkah perlindungan masyarakat disampaikan secara terbuka. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara semakin memburuk.

Kabut asap akibat Karhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kenyamanan, kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Karena itu, penanganan Karhutla membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, aparat, dunia usaha hingga masyarakat. Pencegahan sejak dini dinilai penting agar kebakaran tidak meluas dan dampak asap dapat diminimalkan.

Warga Kabupaten Sambas berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga anak-anak, bayi dan seluruh masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman serta menghirup udara yang lebih bersih. (Run).

 

Posting Komentar

0 Komentar