Harga Es Batu Tembus Rp18 Ribu per Balok, Nelayan Paloh Kian Tertekan

Pojokkatanews.com - Nelayan di wilayah pesisir Kecamatan Paloh menghadapi persoalan serius terkait ketersediaan es batu yang menjadi kebutuhan utama untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan ikan. Kondisi tersebut semakin terasa saat musim ikan layur yang tengah melimpah, sehingga kebutuhan es batu meningkat tajam.

Salah seorang nelayan Paloh, Hermanto, mengatakan keberadaan pabrik es batu dengan kapasitas produksi besar sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat nelayan di kawasan tersebut.

"Untuk persoalan es batu, Paloh memang sangat memerlukan pabrik es batu. Saat musim ikan layur, hasil tangkapan nelayan bisa mencapai ratusan kilogram sehingga sangat membutuhkan es batu untuk menjaga kualitas ikan," ujarnya, Rabu (24/6/2026).

Menurut Hermanto, hingga saat ini Desa Sebubus belum memiliki pabrik es batu. Ketersediaan es hanya mengandalkan freezer atau lemari pendingin berkapasitas kecil yang mampu menghasilkan sekitar 15 balok es dalam satu kali produksi.

Akibat keterbatasan itu, nelayan terpaksa mencari pasokan es batu ke daerah lain, seperti Desa Tanah Hitam. Bahkan tidak jarang warga menitip pembelian es batu dari Mempawah melalui jasa travel karena pasokan di daerah tersebut lebih mudah diperoleh.

"Kalau di Sebubus memang belum ada pabrik es. Nelayan sering mencari sampai ke Tanah Hitam, bahkan ada yang titip dari Mempawah karena stok di sana lebih banyak," katanya.

Ia menjelaskan, kebutuhan es batu untuk satu nelayan bisa mencapai 50 balok dalam sekali melaut. Jumlah tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas hasil tangkapan, terutama ikan layur yang sangat rentan mengalami penurunan mutu apabila tidak segera didinginkan.

"Kalau dihitung minimal, satu nelayan bisa membutuhkan sekitar 50 balok es batu. Jika pasokan kurang, kualitas ikan hasil tangkapan tentu akan menurun," ungkapnya.

Hermanto menambahkan, kebutuhan es batu untuk ikan layur jauh lebih besar dibandingkan jenis ikan lainnya seperti ikan semilang atau gelama. Oleh karena itu, ketersediaan es menjadi faktor penting dalam menjaga nilai jual hasil tangkapan nelayan.

Selain sulit diperoleh, harga es batu yang didatangkan dari luar daerah juga relatif mahal. Jika membeli dari produsen lokal, harga es batu berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000 per balok. Namun apabila pasokan harus didatangkan dari luar daerah, harganya bisa melonjak hingga Rp15.000 bahkan Rp18.000 per balok.

"Harga es batu dari luar cukup tinggi. Bulan lalu ada yang mencapai Rp15 ribu per balok, sekarang di beberapa tempat sudah sekitar Rp18 ribu per balok," jelasnya.

Meski menghadapi kendala pasokan es batu, aktivitas perikanan di Paloh tetap berjalan. Hasil tangkapan nelayan umumnya langsung dijual kepada penampung yang memiliki jaringan pemasaran hingga ekspor.

"Biasanya hasil tangkapan langsung dibeli penampung atau bos. Setelah terkumpul beberapa kontainer, ikan tersebut langsung dikirim untuk dipasarkan," pungkasnya.

Para nelayan berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun investor untuk menghadirkan pabrik es batu berkapasitas besar di Kecamatan Paloh. Selain membantu menjaga kualitas hasil tangkapan, keberadaan fasilitas tersebut juga diyakini dapat mendukung perkembangan sektor perikanan yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir. (Run)

Top of Form

Bottom of Form

 

Posting Komentar

0 Komentar