Bertani Itu "Abor"

Ada banyak istilah dalam bahasa daerah yang perlahan menjadi asing, bahkan bagi penuturnya sendiri. Bukan karena kita tidak mau tahu, tapi karena zaman bergerak terlalu cepat. Perubahan gaya hidup, derasnya arus teknologi, dan banjir informasi instan membuat banyak hal bergeser, termasuk cara kita berbahasa. Di sisi lain, ada kecenderungan yang diam-diam tumbuh. Kita merasa lebih diakui ketika menjadi orang lain. Di tengah itu semua, bahasa ibu pelan-pelan ikut tergerus.

Di Melayu Sambas, ada banyak istilah yang kini jarang dipahami. Untuk mengerti, kita sering harus kembali bertanya kepada para sepuh. Kosakata yang dulu hidup dalam percakapan sehari-hari, kini lambat laun tersimpan hanya dalam ingatan generasi tua.

Salah satunya adalah "abor". Dari beberapa literatur daring kamus Melayu Sambas yang saya peroleh, "abor" dapat diartikan kabur, mengalihkan, atau mengaburkan persoalan. Dalam makna lain, ia menggambarkan sesuatu yang perlahan sirna karena sebab lain. Namun dalam keseharian, makna itu terasa lebih hidup.

Saya sering mendengar ungkapan seperti ini,

“Pun ke ume rase abor ati meliat tanaman yang ijau-ijau." Maksudnya ketika pergi ke kebun, hati yang semula gundah perlahan hilang karena melihat hamparan hijau. Di situ, "abor" bukan sekadar kata. Ia adalah pengalaman.

 Esensi Abor 

Dari sini, pertanyaan sederhana muncul,

mengapa bertani bisa membuat hati menjadi "abor"? Sebagian jawabannya boleh jadi terletak pada perkara yang terlihat sederhana, tetapi berdampak besar.

Hamparan hijau, misalnya. Sejumlah penelitian menunjukkan warna hijau memiliki efek menenangkan dan mampu menurunkan tingkat stres. Mata manusia memang lebih optimal menangkap spektrum warna ini. Tidak mengherankan jika melihat tanaman yang tumbuh rapi dapat menghadirkan rasa tenang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. (detikHealth.com)

Selain itu, aktivitas bertani membuat tubuh terpapar sinar matahari pagi yang penting bagi pembentukan vitamin D, sekaligus mendorong tubuh untuk terus bergerak. Dalam jangka panjang, ini berkontribusi pada kesehatan fisik.

Di sisi lain, bertani juga melibatkan kerja kognitif. Seorang petani tidak sekadar menanam, tetapi juga merencanakan, mengamati, dan mengambil keputusan. Ia harus memahami kondisi tanah, cuaca, hingga penggunaan nutrisi dan pengendalian hama. Dengan kata lain, bertani adalah aktivitas yang melibatkan tubuh sekaligus pikiran.

Namun bertani tidak berhenti pada aspek fisik dan mental. Ia juga menyentuh dimensi batin. Ada rasa tenang yang tidak selalu bisa ditemukan di ruang-ruang lain. Rasa cukup yang tidak selalu hadir dalam kehidupan yang serba cepat. Dalam konteks itulah, istilah "abor" menemukan maknanya. Ia bukan sekadar hilangnya sesuatu, tetapi sirnanya kegelisahan oleh hadirnya sesuatu yang lain. Maka tidak berlebihan jika dikatakan: bertani itu "abor".

 Anggapan Rendah Soal Petani 

Ada satu persoalan di balik semua itu yang lebih besar. Yakni cara kita memandang dan berasumsi terhadap petani.

Hingga hari ini, masih ada anggapan bahwa petani berada pada kasta sosial yang rendah. Stigma ini tidak muncul begitu saja. Ia bisa jadi merupakan sisa cara pandang lama. Warisan sejarah panjang, termasuk masa kolonial, ketika petani dan buruh tani ditempatkan sebagai lapisan terbawah dalam struktur sosial.

Masalahnya, cara pandang itu tidak sepenuhnya hilang. Ia masih tersisa, bahkan terkadang tanpa kita sadari ikut kita rawat. Padahal jika dilihat secara jernih, petani adalah penyangga tatanan kehidupan. Hampir semua orang, tanpa memandang profesi dan status sosial, bergantung pada hasil kerja petani.

Tanpa petani, tidak ada pangan.

Tanpa pangan, tidak ada kehidupan yang bisa berjalan normal. Lalu pertanyaannya menjadi sederhana, sekaligus mendasar, "Haruskah seorang petani terlebih dahulu menjadi aparatur sipil agar diakui sebagai pahlawan pangan?"

Ataukah kita akan terus membiarkan profesi ini dipandang rendah, seolah ia identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan? Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal pekerjaan, tetapi soal cara kita memberi nilai.

Dunia memang tidak selalu adil. Dalam banyak kasus, seseorang dianggap lebih tinggi bukan karena perannya lebih besar, tetapi karena posisinya lebih terlihat. Bahkan tidak jarang, ada kecenderungan untuk merasa lebih baik dengan cara merendahkan orang lain.

Namun alam tidak bekerja seperti itu. Di ladang, tidak ada tanaman yang tumbuh dengan menjatuhkan tanaman lain. Setiap tanaman tumbuh sesuai dengan kodratnya, mengambil ruangnya sendiri, dan memberi manfaat dengan caranya masing-masing.

Mungkin manusia seharusnya belajar dari sana. Bahwa nilai tidak selalu ditentukan oleh apa yang tampak di permukaan. Bahwa peran tidak selalu harus terlihat megah untuk menjadi penting.

Pada akhirnya, bertani bukan sekadar pekerjaan.

Ia adalah cara hidup. Salam diamnya, ia mengajarkan sesuatu yang sering kita lupakan.

Bahwa yang benar-benar menopang kehidupan, seringkali justru datang dari hal-hal yang dianggap sederhana. Dari tanah, dari tangan yang bekerja, dari proses yang tidak selalu terlihat. Dan di sanalah, mungkin, hati menjadi "abor".

 Penulis : Juharis, petani dari Kecamatan Jawai dan pemerhati kehidupan sosial


Posting Komentar

0 Komentar