Kala Petani Menulis

Saya baru menyadari sesuatu setelah kembali bertani dan mulai serius menulis lagi. Rupanya menjadi petani tidak hanya membuat saya berhadapan dengan tanah, cuaca, hama, pupuk, dan harga hasil panen. Ada satu hal lain yang ikut saya bawa ke mana-mana yaitu identitas sebagai petani. Yang kadang kala ikut menentukan bagaimana suara kita diperlakukan.

Petani tentu boleh bicara. Petani boleh menyampaikan keluhan. Petani bahkan boleh menulis. Tetapi entah mengapa, ketika seorang petani menulis tentang persoalan yang ia alami sendiri, tulisannya sering lebih mudah dipandang sebagai curhat daripada gagasan.

Saya mulai menyadari hal itu setelah beberapa tulisan saya coba kirim ke media. Ada yang diterbitkan, ada pula yang tidak. Itu hal biasa bagi seorang penulis. Tulisan ditolak bukanlah sesuatu yang perlu diratapi. Seorang penulis memang harus siap menerima kenyataan bahwa tulisannya tidak selalu dianggap layak terbit.

Tetapi pengalaman itu membuat saya memperhatikan sesuatu yang lain. Mengapa sebuah tulisan sering kali seperti memiliki bobot bahkan sebelum isinya selesai dibaca

Kalau tulisan yang sama keluar dari seorang akademisi, orang mungkin menyebutnya kajian. Kalau ditulis oleh seorang pengamat, kita menyebutnya analisis. Kalau datang dari pejabat pemerintah, ia bisa disebut pandangan atau masukan kebijakan. Tetapi ketika gagasan serupa keluar dari seorang petani, jangan-jangan orang lebih dulu menyebutnya curhat.

Padahal isi tulisan belum tentu berbeda. Yang berbeda kadang hanya nama dan jabatan di bawahnya.

Saya tidak sedang mengatakan tulisan akademisi pasti bagus, tulisan pengamat pasti tajam, atau tulisan pejabat pasti berkualitas. Begitu juga sebaliknya, tulisan petani tidak otomatis bagus hanya karena ia ditulis oleh petani. Tulisan tetap harus dinilai dari gagasan, data, cara berpikir, dan kemampuan penulis menyampaikannya.

Justru itu yang saya persoalkan. Kalau tulisan hendak dinilai, mengapa tidak dimulai dari tulisannya?

Mengapa gelar dan jabatan terkadang seperti menjadi nilai tambah sebelum pembaca masuk ke paragraf pertama?

Barangkali karena kita sudah terlalu lama hidup dalam kebiasaan menghormati gelar. Kita terbiasa menganggap orang yang memiliki jabatan tinggi lebih layak didengar. Kita merasa pendapat seorang pejabat lebih penting daripada pendapat orang yang setiap hari bekerja di sawah. Kita menganggap analisis orang yang duduk di ruang ber-AC lebih ilmiah daripada pengamatan orang yang bekerja di bawah matahari.

Padahal ada pengetahuan yang tidak lahir dari ruang seminar. Ada pengetahuan yang lahir dari lumpur.

Petani mengetahui perubahan tanah bukan karena membaca laporan tentang tanah, tetapi karena tangannya setiap hari menyentuh tanah. Ia mengetahui kapan tanaman mulai kekurangan air dari perubahan daun. Ia mengenali musim dari pengalaman bertahun-tahun. Ia tahu harga di tingkat pengepul karena setiap panen ia berhadapan langsung dengan pasar.

Tentu pengalaman petani tidak otomatis menjadi ilmu yang sempurna. Pengalaman juga bisa keliru. Karena itu ia perlu diuji, dibandingkan, didiskusikan, bahkan dikritik.

Tetapi bukankah begitu pula seharusnya semua pengetahuan diperlakukan? Saya justru khawatir ketika pengalaman petani langsung ditempatkan di bawah hanya karena orang yang mengalaminya tidak memiliki gelar akademik.

Ada sesuatu yang ironis di sini. Pemerintah sering berbicara tentang pentingnya mendengar suara petani. Ada banyak forum, seminar, diskusi, penyuluhan, dan program pemberdayaan yang mengajak petani untuk menyampaikan aspirasinya. Petani diminta bersuara. Tetapi setelah bersuara, apakah benar ada yang mendengarkan?

Lebih jauh lagi, apakah suara itu dianggap sebagai pengetahuan? Sebab mendengar dan menganggap penting adalah dua perkara yang berbeda. Seseorang bisa saja mendengarkan keluhan petani selama lima menit, mengangguk, lalu kembali ke meja kerjanya. Tetapi menganggap pengalaman petani sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar mendengar.


Mungkin itu sebabnya petani sering menjadi objek pembicaraan, tetapi jarang menjadi subjek yang berbicara. Petani dibicarakan oleh pemerintah, akademisi, pengamat, serta media. Bahkan dibicarakan oleh orang-orang yang mungkin tidak pernah menginjak kebun petani. Tetapi ketika petaninya sendiri berbicara, kita kadang bertanya, "Ini petani atau penulis?" Seolah-olah keduanya tidak boleh berada dalam satu tubuh.

Padahal mengapa tidak?

Bukankah seorang petani boleh membaca buku? Bukankah ia boleh berpikir tentang kebijakan? Bukankah ia boleh mengamati keadaan di sekelilingnya, lalu menuliskannya dengan bahasa yang baik?

Saya sendiri sudah menulis beberapa buku. Tetapi ketika kembali menjadi petani, saya seperti menemukan kembali sesuatu yang sebelumnya hanya saya baca dari kejauhan. Ada hal-hal yang baru bisa dipahami setelah tangan sendiri kotor oleh tanah.


Dari sana saya mulai berpikir bahwa mungkin petani tidak kekurangan pengetahuan. Yang kurang adalah ruang untuk membuat pengetahuan itu dianggap penting. Dan mungkin masalahnya bukan hanya pemerintah. Kita semua ikut membentuk kebiasaan itu.

Kita terlalu mudah percaya kepada orang yang mempunyai titel panjang. Kadang sebelum membaca tulisannya pun kita sudah menganggapnya berbobot. Nama lengkapnya saja sudah lebih panjang daripada argumennya, tetapi kita tetap membaca dengan penuh hormat.

Sementara seorang petani menulis dua halaman dengan pengalaman bertahun-tahun, kita mungkin membacanya sambil berkata, "Ah, paling juga curhat."

Saya kira ini bukan persoalan kecil. Ketika masyarakat hanya menghargai pengetahuan berdasarkan siapa yang menyampaikannya, kita sebenarnya sedang kehilangan banyak pengetahuan yang tumbuh di luar institusi resmi.

Kalau seorang petani menulis tentang pertanian, tentu tulisannya boleh dikritik. Kalau salah, katakan salah. Kalau datanya lemah, perbaiki. Kalau argumennya tidak masuk akal, bantah. Tetapi jangan menolaknya hanya karena di bawah namanya tertulis satu kata yang sederhana "Petani."

Saya tidak meminta agar tulisan petani harus selalu dimuat di koran. Media tetap mempunyai hak menentukan tulisan mana yang layak diterbitkan. Tulisan saya pun boleh ditolak. Saya tidak keberatan dengan itu.

Suatu hari nanti semoga petani tidak lagi merasa harus mengganti identitasnya terlebih dahulu agar pikirannya dianggap serius.

Saya tidak tahu apakah tulisan seorang petani akan lebih mudah didengar setelah ini. Mungkin tidak. Tetapi saya tahu satu hal bahwa selama saya masih bertani, akan selalu ada sesuatu yang saya lihat, saya alami, dan saya pikirkan. Kalau tidak ada yang mau mendengarnya, setidaknya saya tidak membiarkannya hilang begitu saja.


Penulis : Juharis Petani Milenial Jawai


Posting Komentar

0 Komentar