Pojokkatanews.com - Pengurus Wilayah Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Provinsi Kalimantan Barat akan menggelar Seminar Internasional dan Upgrading Dai yang dipusatkan di Aula Kantor Bupati Sambas selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 April 2026.
Kegiatan ini mengusung tema utama Sinergitas Dai dalam Pembangunan di Wilayah Perbatasan Negara, yang bertujuan memperkuat peran dai dalam mendukung pembangunan serta ketahanan kawasan perbatasan.
Ketua PW Parmusi Kalbar, H. Satono, mengatakan rangkaian kegiatan ini tidak hanya menjadi forum ilmiah, tetapi juga wadah strategis untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi para dai.
“Tema besar kegiatan ini memperkuat kompetensi dai dan ketahanan perbatasan. Kami mengundang peserta baik dari dalam maupun luar negeri untuk terlibat aktif dalam diskusi dan pertukaran gagasan,” ujarnya.
Seminar ini akan menghadirkan sejumlah tokoh penting sebagai keynote speaker, di antaranya Menteri Dalam Negeri RI Muhammad Tito Karnavian serta Menteri Industri Makanan Sarawak, Stephen Rundi Utom. Kehadiran tokoh internasional juga diperkuat dengan partisipasi pembicara Nik Abdul Rakib Bin Nik Hassan – Thailand Dr. H. Muhammad Hadi bin Muhammad Melayong – Brunei Darussalam YM Zaidatul Mardiah binti Yussof – Malaysia (Semenanjung) Prof. Dr. Haji Sanib Bin Haji Said – Sarawak, Malaysia Sarafian Salleh, Eng. – Singapura Prof. H. Triyo Supriyatno, Ph.D. – Indonesia
Pada hari pertama, kegiatan akan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan salat malam dan subuh berjamaah serta kuliah subuh. Memasuki hari kedua, seminar inti digelar dengan menghadirkan Mendagri yang dijadwalkan memaparkan materi terkait percepatan pengelolaan wilayah perbatasan dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional.
Selain itu, pembahasan juga mencakup isu-isu strategis seperti ketahanan pangan, kolaborasi Indonesia–Malaysia, hingga transformasi sumber daya manusia dai dalam mendorong perubahan sosial di masyarakat perbatasan.
Satono menambahkan, selain memperluas wawasan global, kegiatan ini juga menitikberatkan pada sesi upgrading dai guna meningkatkan kualitas dakwah yang adaptif terhadap tantangan zaman.
“Kami ingin para dai tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga mampu menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan kebangsaan di wilayah perbatasan,” tambahnya.
Forum ini juga membuka kesempatan bagi akademisi, peneliti, dan praktisi untuk mempresentasikan gagasan dan hasil penelitian dalam berbagai subtema, seperti dakwah dan ketahanan sosial, kedaulatan pangan dan ekonomi umat, keamanan perbatasan, studi lintas negara Indonesia–Malaysia, hingga sejarah dakwah dan kesultanan Borneo.
Adapun tahapan kegiatan ilmiah meliputi pengumpulan abstrak yang telah ditutup pada 20 Maret 2026, pengumuman abstrak pada 25 Maret 2026, serta batas akhir pengumpulan full paper pada 2 April 2026. Sementara sesi presentasi paralel dijadwalkan berlangsung pada 7–8 April 2026.
Sebagai bentuk apresiasi, paper terpilih akan dipublikasikan dalam prosiding maupun book chapter ber-ISBN.
Memasuki hari terakhir, peserta akan mendapatkan materi terkait akselerasi dakwah di era digital serta penguatan akuntabilitas. Kegiatan kemudian ditutup dengan kunjungan ke situs bersejarah di Sambas, seperti Istana Kesultanan Sambas dan Masjid Jami Sambas sebagai refleksi historis perkembangan dakwah di Bumi Borneo.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat jejaring, kolaborasi lintas negara, serta kontribusi nyata dalam pembangunan wilayah perbatasan yang berkelanjutan.
Informasi lebih lanjut kunjungi https://parmusi-kalbar.pages.dev/info-penting

0 Komentar