Pojokkatanews.com - Penutupan sementara layanan lintas batas di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas mulai berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat perbatasan.
Penutupan akses tersebut membuat masyarakat kesulitan melakukan transaksi jual beli lintas batas, terutama untuk menjual hasil pertanian ke wilayah Lunduk, Sarawak, Malaysia.
Layanan PLBN Aruk ditutup sementara hingga waktu yang belum ditentukan menyusul insiden ketegangan antara massa dan oknum petugas Bea Cukai Sintete beberapa waktu lalu.
Pengurus Asosiasi Pedagang Lintas Batas Kabupaten Sambas, Abelnus, mengatakan penutupan PLBN Aruk memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat, khususnya warga yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan lintas negara.
"Terkait dengan penutupan PLBN Aruk, tentu memiliki dampak yang begitu luas, terutama di perekonomian masyarakat sekitar," ungkap Abelnus. Kamis (05/11/2026).
Menurutnya, selama tiga hari penutupan, aktivitas perdagangan masyarakat praktis terhenti. Warga tidak dapat membawa dan menjual hasil pertanian mereka ke wilayah Lunduk, Sarawak, seperti yang biasa dilakukan setiap hari.
"Terkait dengan dampak perekonomian masyarakat sekitar, itu sangat luar biasa. Nah, sudah tiga hari ini lumpuh total terkait dengan aktivitas perekonomian, terutama terkait dengan masyarakat yang menjual hasil pertaniannya ke wilayah Lunduk, Sarawak, Malaysia," ujarnya.
Abelnus menjelaskan, sebagian masyarakat Aruk dan Kecamatan Sajingan Besar mengandalkan perdagangan hasil pertanian serta produk olahan sumber daya alam lokal sebagai sumber penghasilan.
Komoditas yang biasa dijual warga antara lain sayuran, beras, terung, serta berbagai hasil kerajinan tangan seperti tikar.
Aktivitas tersebut bahkan banyak dilakukan oleh kaum ibu yang setiap hari membawa hasil pertanian dan kerajinan untuk dipasarkan ke wilayah Malaysia.
"Karena ibu-ibu, terutama ibu-ibu yang tiap hari itu menjual hasil pertanian mereka seperti sayur, beras, terung, termasuk juga hasil anyaman mereka seperti tikar dan sebagainya," jelasnya.
Namun, sejak PLBN Aruk ditutup, berbagai hasil pertanian dan kerajinan tersebut tidak dapat dipasarkan ke negara tetangga.
"Nah, itu selama tiga hari ini tidak terjual karena tidak bisa dilewati PLBN Aruk dampak dari penutupan tersebut. Nah, itu luar biasa dampaknya, itu yang pertama terkait dengan dampak ekonomi," tegas Abelnus.
Selain sektor ekonomi, penutupan PLBN Aruk juga berdampak terhadap akses pelayanan kesehatan masyarakat perbatasan.
Abelnus menyebut, selama ini cukup banyak warga Sambas yang memanfaatkan fasilitas kesehatan di Kuching, Sarawak, Malaysia untuk menjalani pengobatan.
PLBN Aruk menjadi salah satu akses terdekat yang biasa digunakan masyarakat untuk menuju rumah sakit di wilayah tersebut.
"Dampak lainnya adalah dampak karena PLBN Aruk itu selain aktivitas ekonomi, juga ada aktivitas masyarakat yang berobat ke wilayah Kuching, Sarawak, Malaysia. Karena masyarakat kita banyak sekali yang berobat ke Kuching dan melewati PLBN Aruk," ungkapnya.
Akibat penutupan tersebut, warga yang hendak menjalani pemeriksaan maupun pengobatan di rumah sakit Malaysia mengalami kesulitan melintas.
Selama tiga hari terakhir, akses yang biasanya digunakan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Kuching tidak dapat dimanfaatkan.
"Dan sampai hari ini masyarakat tidak bisa lewat. Dampaknya mereka tidak bisa melakukan pengobatan atau berobat ke rumah sakit Kuching di Malaysia selama tiga hari ini. Nah, itu dampak lainnya," tuturnya.
Sejumlah komoditas unggulan Kabupaten Sambas seperti jeruk, buah naga, dan kelapa juga tidak bisa dipasarkan ke wilayah Malaysia melalui akses PLBN Aruk
"Nah sampai hari ini juga tidak bisa melakukan transaksi jual-beli, seperti buah jeruk, buah kelapa, buah naga dan sebagainya gitu ya karena dampak dari penutupan itu," pungkasnya. (Run).

0 Komentar