Pojokkatanews.com - Ancaman kemarau panjang mulai menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sambas. Di tengah kondisi tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distankp) Sambas memperkuat sinergi dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian dan ketahanan pangan daerah.
Kepala Distankp Kabupaten Sambas, Apriadi, mengatakan kolaborasi pemerintah daerah bersama HKTI menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan sektor pertanian akibat perubahan iklim.
Hal itu disampaikannya dalam Rapat Kerja Antisipasi Dampak El Nino dan Penanggulangan Dampak Perubahan Iklim serta Bencana Kekeringan yang digelar Pemerintah Kabupaten Sambas, Kamis (10/9/2026).
“Kegiatan ini merupakan sinergi antara Pemerintah Kabupaten Sambas, dalam hal ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bersama HKTI Kabupaten Sambas. Mudah-mudahan sinergi ini dapat berjalan dengan lancar dan ke depan dapat terus berkolaborasi dalam membangun pertanian yang ada di Kabupaten Sambas,” kata Apriadi.
Menurut Apriadi, kondisi kemarau yang berlangsung lebih panjang dari perkiraan menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Informasi terbaru yang diterima menyebutkan, kemarau yang sebelumnya diprediksi berakhir pada September berpotensi berlangsung hingga Januari.
“Harapan kita kegiatan ini dapat memberikan arahan kepada kita semuanya dalam rangka membangun dan menjaga pangan di tengah-tengah krisis kemarau yang cukup panjang di kawasan Sambas,” ujarnya.
Meski menghadapi keterbatasan air, sektor pertanian Sambas masih menunjukkan capaian yang cukup positif. Apriadi menyebut pemerintah pusat sebelumnya menargetkan luas tanam pada periode Juni hingga Agustus mencapai sekitar 25.000 hektare.
Khusus pada Agustus 2026, luas lahan yang berhasil ditanam mencapai sekitar 9.000 hektare. Sebagian tanaman tersebut bahkan dalam waktu dekat diperkirakan mulai memasuki masa panen.
“Target luas tanam yang ditargetkan oleh pemerintah pusat dari bulan Juni, Juli, Agustus itu lebih kurang 25.000 hektare. Kondisi yang ada di lapangan saat ini, dalam waktu dekat mungkin sudah akan panen,” jelasnya.
Menurut Apriadi, tanaman yang telah ditanam tersebut harus dijaga agar dapat menghasilkan produksi secara optimal. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting yang harus dipastikan selama tanaman berada dalam masa pertumbuhan.
“Yang kita tanam di bulan Agustus kemarin lebih kurang 9.000 hektare. Ini yang menjadi harapan kita, bagaimana kita dapat menjaga produksi tetap terjaga,” katanya.
Menariknya, meski luas panen mengalami penurunan, produksi padi Kabupaten Sambas justru tercatat meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Sambas pada periode yang dibandingkan mencapai sekitar 155.000 ton pada 2026. Angka tersebut meningkat dari sekitar 153.000 ton pada 2025.
“Sebagai informasi, hasil KSA dari BPS kemarin, memang luas panen kita agak menurun. Namun produksi kita dibandingkan tahun 2025 dengan periode yang sama ada peningkatan. Di tahun 2025 lebih kurang 153.000 ton, tetapi di tahun 2026 kita berada di posisi 155.000 ton,” ungkap Apriadi.
Capaian tersebut, kata dia, menjadi modal penting untuk mempertahankan ketahanan pangan daerah. Namun, kondisi kemarau panjang tetap harus diantisipasi agar produktivitas pertanian tidak mengalami gangguan.
Untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian, Distankp Sambas telah mengusulkan sejumlah program kepada pemerintah pusat. Di antaranya pembangunan dan perbaikan irigasi, irigasi perpipaan, bantuan pompa air hingga pembangunan sumur bor.
“Atas izin Pak Bupati, kita sudah mengusulkan beberapa program, baik itu irigasi, perlombaan irigasi, perpipaan, terus mengusulkan bantuan pompa air,” jelasnya.
Selain infrastruktur irigasi, sumur bor juga mulai diusulkan sebagai alternatif sumber air bagi lahan pertanian yang terdampak kekeringan. Namun, program tersebut masih berada pada tahap pengajuan.
“Sekarang kita mencoba untuk melakukan usulan sumur bor. Namun sampai pada tahap ini kita masih melakukan usulan,” katanya.
Sementara untuk dukungan program irigasi, Kabupaten Sambas sejauh ini telah menerima sekitar empat unit dari pemerintah pusat. Apriadi memastikan pihaknya akan terus mengajukan tambahan bantuan.
“Kita tidak patah semangat untuk mengajukan usulan. Mudah-mudahan pusat, dengan Sambas sebagai lubuk pangan Kabupaten Kalimantan Barat, dapat memberikan dukungan penuh dari pemerintah pusat,” tegasnya.
Apriadi juga mengingatkan agar kondisi kemarau tidak membuat petani kehilangan semangat untuk menanam. Menurutnya, keberlanjutan produksi harus tetap dijaga untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi.
“Mudah-mudahan El Nino ini, bencana kekeringan ini, tidak mematahkan semangat kita untuk selalu menanam dengan meningkatkan hasil produksi,” ujarnya.
Ia berharap perhatian pemerintah pusat terhadap Kabupaten Sambas semakin besar, khususnya dalam penyediaan infrastruktur pertanian dan sumber air. Dukungan dari pemerintah daerah juga diharapkan terus diperkuat melalui program-program yang dapat dirasakan langsung oleh petani.
“Ini harapan kita bersama. Mudah-mudahan nanti kita mendapatkan perhatian yang lebih kuat dari pemerintah pusat dan mudah-mudahan juga dari Pak Bupati dapat memperhatikan kawan-kawan kita petani di lapangan ini dengan beberapa kegiatan yang dapat kita laksanakan di lapangan,” pungkasnya. (Run)
.jpg)
0 Komentar