Pojokkatanews.com – Dari melempeng sagu hingga atap berbahan daun sagu, masyarakat Desa Sebangun, Kecamatan Sebawi, Kabupaten Sambas, menunjukkan bahwa tanaman sagu bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi, budaya, dan kreativitas yang perlu dikembangkan.
Potensi tersebut diangkat melalui Festival Sagu 6 Tahun 2026 yang berlangsung pada 20–23 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi sarana melestarikan tradisi sekaligus mendorong pengembangan sagu sebagai produk unggulan desa.
Kepala Desa Sebangun, Sarbini, mengatakan Festival Sagu berawal dari melimpahnya tanaman sagu di wilayah desanya, mulai dari kawasan pesisir sungai hingga perkebunan milik masyarakat.
“Festival Sagu ini berawal dari kondisi yang ada di Desa Sebangun. Kita melihat tanaman sagu tumbuh dari awal hingga ujung desa, mulai dari pesisir sungai sampai ke kawasan perkebunan masyarakat. Dari situlah muncul ide dan gagasan untuk memperkenalkan sagu agar lebih dikenal masyarakat luas, hingga akhirnya lahirlah Festival Sagu,” ujar Sarbini.
Menurutnya, Festival Sagu 6 bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya memperkenalkan beragam manfaat sagu sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Berbagai perlombaan digelar, mulai dari membuat melempeng sagu secara tradisional hingga mengolah sagu menjadi tepung untuk beragam produk kuliner. Umbut atau pucuk sagu juga dapat diolah menjadi berbagai makanan dan camilan bernilai jual.
“Kita membuat berbagai perlombaan, mulai dari kuliner hingga olahraga. Ada lomba melempeng sagu secara tradisional, tetapi karena sekarang sudah memasuki zaman modern, sagu juga bisa diolah menjadi tepung dengan berbagai variasi produk. Umbut atau pucuk sagu pun dapat diolah menjadi aneka camilan,” jelasnya.
Tidak hanya dari sisi pangan, festival ini juga memperkenalkan pemanfaatan bagian tanaman sagu lainnya. Batangnya diangkat melalui perlombaan menggulingkan batang sagu, sedangkan daunnya dimanfaatkan untuk membuat atap.
“Dari daun sampai batang sagu, semuanya kita perkenalkan melalui festival ini. Batangnya kita lombakan melalui kegiatan menggulingkan batang sagu, sedangkan daunnya dimanfaatkan untuk membuat atap. Kita ingin menunjukkan kepada masyarakat luar bahwa tanaman sagu memiliki banyak manfaat,” ungkap Sarbini.
Ia berharap, kegiatan tersebut dapat menjaga pengetahuan tradisional agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Generasi muda juga didorong untuk melihat sagu sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk unggulan dan sumber peluang usaha.
Festival Sagu 6 turut memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produk olahan sagu maupun produk lokal lainnya. Pemerintah desa juga melibatkan Karang Taruna dan berbagai organisasi masyarakat untuk memperkuat partisipasi serta kebersamaan dalam mengembangkan potensi desa.
“Festival ini juga menjadi salah satu cara untuk memotivasi anak-anak muda dan generasi sekarang agar mampu melihat serta mengembangkan potensi yang ada di tempat kita sendiri. Kita ingin sagu tidak hanya dikenal sebagai tanaman, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Sarbini menegaskan, pengembangan sagu sebagai produk unggulan desa sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, promosi dan pengembangan produk perlu dilakukan secara berkelanjutan agar semakin dikenal di luar Kabupaten Sambas.
“Kita berharap melalui Festival Sagu ke-6 ini, Desa Sebangun semakin dikenal masyarakat luar. Kita melibatkan UMKM, Karang Taruna, dan beberapa organisasi lainnya. Dalam menjaga kelestarian sagu untuk generasi mendatang, kita juga ingin semua unsur masyarakat ikut terlibat agar festival ini tetap berjalan dan berkelanjutan setiap tahun,” tutup Sarbini.
Melalui Festival Sagu 6 Tahun 2026, Desa Sebangun berupaya memadukan pelestarian tradisi, inovasi kuliner, pemberdayaan UMKM, dan keterlibatan generasi muda. Dengan demikian, sagu diharapkan tidak hanya menjadi warisan lokal, tetapi juga mampu mendukung perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. (Red)
.jpg)
0 Komentar